WARTABANYUMAS, CILACAP – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, tanah longsor, dan angin kencang saat memasuki masa peralihan musim atau pancaroba.
Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo, mengatakan berdasarkan prediksi BMKG, awal musim hujan di wilayah Cilacap diperkirakan mulai pada dasarian kedua atau pertengahan November 2026.
“Prediksi BMKG, kita masuk musim penghujan itu baru di dasarian kedua bulan November, artinya pertengahan November,” kata Taryo.
Meski demikian, hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Cilacap dalam beberapa hari terakhir merupakan bagian dari fenomena pancaroba atau peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
Sejumlah Wilayah Cilacap Sempat Tergenang
Taryo menyebutkan, hujan pada Sabtu (31/10/2026) menyebabkan genangan air di sejumlah wilayah Cilacap bagian timur, di antaranya Desa Mujur, Sikampuh Kecamatan Kroya, Desa Mrenek, Paketingan Kecamatan Sampang dan Desa Karangreja Kecamatan Maos.
Genangan juga terjadi di wilayah Desa Dondong, Kecamatan Kesugihan, dengan air meluap ke area persawahan hingga permukiman warga.
Menurut Taryo, BMKG menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas cukup tinggi terjadi di wilayah timur Cilacap dan bagian selatan Banyumas sehingga aliran air turut menuju kawasan Kroya.
“Wilayah-wilayah itu memang jadi muara, ketika hujan di Banyumas, airnya akhirnya juga turun ke wilayah Kroya,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan informasi BMKG yang diterima BPBD, kondisi cuaca di Cilacap selama tiga hari ke depan diperkirakan didominasi hujan ringan.
BPBD Minta Warga Bersihkan Saluran Air
Sebagai langkah antisipasi bencana hidrometeorologi, BPBD Cilacap mengimbau masyarakat membersihkan saluran drainase, sungai, dan jalur aliran air yang berpotensi tersumbat saat hujan turun.
Taryo mengatakan, sumbatan eceng gondok di Sungai Lunjarh, wilayah Sikampuh, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan aliran air terhambat hingga memicu genangan.
BPBD Cilacap bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak juga melakukan pemantauan dan berkoordinasi dalam upaya pembersihan eceng gondok di lokasi tersebut.
“Alhamdulillah, kemarin saya langsung dengan kepala BBWS memonitor itu, akhirnya sudah mulai surut karena proses pengerjaan pembersihan saluran sudah mulai dilaksanakan,” jelasnya.
Selain membersihkan saluran air, BPBD juga menyoroti kondisi sungai di wilayah Mujur Lor yang mengalami pendangkalan dan penyempitan sehingga berpotensi menghambat aliran air ketika hujan deras.
Taryo menyebutkan, BBWS Serayu Opak berencana melakukan normalisasi saluran di wilayah tersebut untuk memperlancar aliran air dan mengurangi risiko genangan.
Warga di Daerah Lereng Diminta Waspada Longsor
BPBD Cilacap juga meminta warga yang tinggal di daerah perbukitan dan lereng meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tanah longsor, terutama apabila ditemukan rekahan pada permukaan tanah.
Taryo mengimbau masyarakat segera melakukan penanganan awal terhadap rekahan tanah dengan menutupnya agar air hujan tidak mudah meresap ke dalam tanah dan meningkatkan risiko pergerakan tanah.
“Saya minta kepada warga masyarakat untuk bekerja bakti menutup rekahan-rekahan itu, sehingga kalau terjadi hujan, airnya tidak langsung masuk dan gerakan tanah atau tanah longsor bisa dihindari,” katanya.
Selain itu, masyarakat diminta memangkas atau menebang pohon besar yang berisiko tumbang ketika terjadi hujan disertai angin kencang, dengan tetap memperhatikan keselamatan dan ketentuan yang berlaku.
Taryo menegaskan, kesiapsiagaan masyarakat perlu dilakukan sejak dini tanpa harus menunggu pengumuman puncak musim hujan dari BMKG.
“Kapan pun kita harus siap, jangan sampai yang terjadi tahun lalu terulang lagi karena mungkin kita kurang waspada atau kurang mitigasi,” pungkasnya.

