WARTABANYUMAS, CILACAP – Di bawah panas terik matahari dan gersangnya kamarau, deretan panel surya di hamparan sawah Desa Kalijaran – Kecamatan Maos – Kabupaten Cilacap berkilau memantulkan harapan dari cahaya.
Cahaya dari energi matahari ini diubah untuk menggerakan roda ekonomi masyarakat.
Dulu, petani di sini hanya bisa berharap pada kemurahan hujan. Kini, mereka memanen berkah dari energi surya, simbol perubahan besar di desa yang dulu dikenal sebagai kawasan sawah tadah hujan.
Inovasi ini lahir melalui program Kalijaran Mapan (Masyarakat Pengelolaan Pertanian Berkelanjutan), hasil kolaborasi antara PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Cilacap dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Margo Sugih.
Program ini tidak hanya menyentuh soal teknologi, tapi juga mengubah cara pandang petani terhadap pertanian berkelanjutan.
Di Desa Kalijaran, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp dengan penyimpanan energi 10 kWh telah beroperasi lebih dari dua tahun dan menjadi sumber tenaga bagi pompa irigasi berbasis energi baru terbarukan.
Pada program MAPAN, anggota kelompok memanfaatkan PLTS sebagai sumber energi pompa irigasi bagi lahan pertanian yang selama ini rentan mengalami kekeringan.
Pasokan listrik yang stabil membantu petani menjaga produktivitas sawah.
Program unggulan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap itu tidak berhenti pada penyediaan sarana produksi pertanian.
Petani tidak terus bergantung pada hasil sawah yang siklusnya panjang. Sehingga, sawah tidak lagi sekadar tempat menghasilkan gabah, melainkan menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan energi, air, pangan, peternakan, hingga usaha pengolahan.
Ketua Gapoktan Margo Sugih – Priyatno mengatakan, kelompoknya juga mulai mendorong peningkatan produktivitas melalui penggunaan varietas padi dan pengaturan pola tanam.
“Salah satu target yang ingin dicapai adalah IP300, yaitu tiga kali tanam dan tiga kali panen dalam setahun. Selain menggunakan Inpari 32, kelompok juga melakukan uji coba varietas lain yang dinilai berpotensi meningkatkan produktivitas,” ujar Prayitno.
Menurutnya, proses panjang dari menyiapkan lahan, menanam, merawat hingga memanen semestinya tercermin dalam nilai produk yang diterima petani.
Ia melihat, penggunaan energi terbarukan bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
“Dulu untuk pertanian seperti mesin penyiram dan pengolahan lahan, petani sangat bergantung pada bahan bakar fosil seperti Pertalite, Pertamax, solar atau biodiesel. Sekarang kita mulai menggunakan energi matahari dan hybrid. Ini mengurangi penggunaan energi fosil,” ujarnya.
Pemanfaatan energi matahari ini terbukti secara signifikan menekan biaya operasional produksi pertanian.
Petani tak perlu lagi terbebani biaya BBM bulanan untuk pompa irigasi maupun pengolahan, sehingga marjin keuntungan kelompok tani dapat meningkat secara optimal.
“Dulu waktu kita memulai ini sering di cemooh. Alhamdulillah sekarang malah sebaliknya, banyak yang datang kemari, belajar bagaimana kami membangun ini. Tapi kalau tidak ada campur tangan yang kuat dari Pertamina, mungkin kami tidak seperti sekarang,” ungkapnya.
Aktivitas pertanian juga membuka ruang padat karya, terutama ketika persiapan lahan dan masa panen berlangsung.
Sehingga, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh pemilik lahan, melainkan oleh masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan pertanian.
“Dari satu teknologi sederhana untuk pengairan, masyarakat kemudian belajar mengelola sistem yang lebih kompleks. Yaitu PLTS dikombinasikan dengan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), sehingga menjadi teknologi hibrid,” jelasnya.
Sementara pengembangan pertanian diarahkan pada penggunaan air yang lebih efisien, termasuk irigasi tetes pada sejumlah lahan hortikultura.
Bagi Pertamina, keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya sarana yang dibangun atau bantuan yang diberikan.
Melainkan pada terciptanya kemandirian berkelanjutan dan perubahan masyarakat menpertahankan program setelah pendampingan berakhir.
Area Manager Communication, Relations and CSR PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap – Agustiawan mengatakan, melalui kolaborasi erat antara Pertamina dan Gapoktan Margo Sugih, Desa Kalijaran kini tidak hanya sukses mewujudkan ketahanan pangan di tingkat lokal, tetapi juga menjadi percontohan eduwisata pertanian ramah lingkungan di Kabupaten Cilacap.
“Program Kalijaran MAPAN membuktikan bahwa ketika pemberdayaan masyarakat dipadukan dengan inovasi energi bersih, kemandirian ekonomi dari hulu ke hilir bukan lagi sekadar impian di atas kertas,” kata Agustiawan.
Program MAPAN yang diluncurkan sejak 2023 ini ditargetkan semakin kuat dengan integrasi antara sektor pertanian dan peternakan berkelanjutan.
Upaya ini diharapkan mampu mendukung swasembada pangan dan pemenuhan gizi masyarakat, khususnya di Kecamatan Maos.
“Program ini juga terus kita evaluasi, sejauh mana dampaknya kepada masyarakat, khususnya kelompok tani di sini. Kita juga terus melakukan proses social mapping, sehingga kalau memang ada yang dibutuhkan tentu kita akan coba dukung,” imbuhnya.

