WARTABANYUMAS, CILACAP – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 1.801 kejadian gempa bumi di Cilacap dan wilayah sekitarnya selama periode 2009 hingga Maret 2026, sehingga kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa dan tsunami di pesisir selatan Jawa perlu terus diperkuat.
Upaya meningkatkan kesiapan masyarakat tersebut dilakukan BMKG melalui kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami di Aula Diklat Praja, Jalan Jenderal Sudirman, Cilacap, Rabu (21/10/2026), yang melibatkan pemerintah daerah, BPBD, TNI-Polri, relawan, kalangan pendidikan, media, serta masyarakat.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara, Hery Susanto Wibowo, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan kebencanaan sekaligus memperkuat sinergi berbagai pihak dalam menghadapi potensi bencana.
“Melalui edukasi dan pelatihan ini, kami ingin meningkatkan pemahaman masyarakat serta kemampuan merespons ancaman gempa bumi dan tsunami,” ujar Hery.
Peserta Sekolah Lapang mendapatkan pembekalan melalui pemaparan materi, diskusi, latihan kelompok, simulasi kebencanaan, hingga penelusuran jalur evakuasi dari kawasan pantai menuju tempat evakuasi sementara maupun tempat evakuasi akhir.
Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo, yang hadir mewakili Pelaksana Tugas Bupati Cilacap, menegaskan bahwa posisi geografis Cilacap yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia membuat wilayah tersebut perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami.
“Kita tidak dapat menentukan kapan bencana akan terjadi, tetapi kita dapat mempersiapkan diri agar mampu merespons dengan cepat, tepat, dan terarah,” kata Taryo.
Ia menambahkan, kesiapsiagaan tidak cukup hanya dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi harus dibangun secara konsisten melalui edukasi dan latihan berkala agar masyarakat mengenali ancaman, memahami tanda bahaya, serta mengetahui jalur evakuasi dan langkah penyelamatan saat kondisi darurat.
Sebagai bagian dari upaya penguatan sistem peringatan dini tsunami, BPBD Cilacap secara berkala menguji 31 unit sirene Tsunami Early Warning System (TWS) yang tersebar di sepanjang pantai setiap tanggal 10 dan 26.
“Pengujian sirene ini juga menjadi sarana edukasi agar masyarakat memahami peringatan dini dan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat,” ungkap Taryo.
Dalam pemaparan materi kebencanaan, BMKG menjelaskan bahwa potensi gempa bumi di Cilacap berkaitan dengan aktivitas zona subduksi di selatan Jawa serta Sesar Ajibarang di Kabupaten Banyumas yang memiliki panjang sekitar 20 kilometer dan potensi magnitudo maksimum mencapai 6,5.
Kepala Balai Besar BMKG Wilayah II Tangerang Selatan, Ana Oktavia Setiyowati, menyampaikan bahwa penyelenggaraan Sekolah Lapang merupakan bagian dari komitmen BMKG untuk meningkatkan perlindungan masyarakat melalui penguatan pengetahuan dan kesiapan menghadapi bencana gempa bumi serta tsunami.
Ana juga memaparkan bahwa Jawa Tengah memiliki 25 sesar aktif yang berpotensi menjadi sumber gempa bumi darat, sehingga pemahaman mengenai risiko dan langkah mitigasi perlu terus disosialisasikan kepada masyarakat.
Untuk mendukung pemantauan aktivitas kegempaan dan potensi tsunami, BMKG telah menyiapkan sejumlah perangkat di wilayah Cilacap, meliputi sistem peringatan dini atau early warning system (EWS), seismometer, akselerometer, dan intensity meter.
Keberadaan peralatan pemantauan tersebut dilengkapi sistem penyebaran informasi peringatan dini kepada pemerintah daerah dan masyarakat sebagai bagian dari upaya mempercepat respons serta meminimalkan risiko korban jiwa ketika bencana terjadi.

