Banyumas
Beranda / Banyumas / Layar Kelas Hadir di HeteroFest 2026, Hadirkan Pemutaran Film dan Diskusi Karya Sineas Lokal

Layar Kelas Hadir di HeteroFest 2026, Hadirkan Pemutaran Film dan Diskusi Karya Sineas Lokal

Poster Layar Kelas dalam rangkaian HeteroFest 2026 yang menghadirkan pemutaran dan diskusi film pada 3-4 Oktober 2026 di Hetero Space Purwokerto.

WARTABANYUMAS, PURWOKERTO – Komunitas Layar Kelas kembali menghadirkan ruang apresiasi perfilman lokal melalui pemutaran dan diskusi film dalam rangkaian HeteroFest 2026 yang berlangsung di Hetero Space Purwokerto, 3-4 Oktober 2026.

Mengusung konsep layar tancap di ruang terbuka, Layar Kelas akan mengajak masyarakat menikmati beragam film karya sineas profesional hingga pelajar sekaligus berdialog langsung mengenai proses kreatif di balik pembuatannya.

Inisiator Layar Kelas, King Anugerah Wiguna, mengatakan keikutsertaan dalam HeteroFest menjadi kesempatan untuk mempertemukan karya film dengan penonton dari berbagai latar belakang.

“Melalui Layar Kelas, kami ingin menghadirkan ruang bagi film-film lokal untuk bertemu dengan audiensnya, mendapatkan respons, sekaligus menjadi bahan diskusi yang dapat memperkaya pengetahuan tentang perfilman,” ujar King yang juga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman.

Angkat Film Lokal hingga Karya Pelajar

Pemuda 19 Tahun Tenggelam di Saluran Irigasi Kebasen, Ditemukan Meninggal Dunia

Selama dua malam, Layar Kelas akan mengisi agenda HeteroFest 2026 mulai pukul 19.00 hingga 22.00 WIB dengan pemutaran film dan diskusi bersama para pembuatnya.

Pada hari pertama, Sabtu (3/10/2026), pengunjung akan disuguhkan film panjang berjudul Judheg yang mengangkat persoalan sosial di Banyumas dan sekitarnya dengan penggunaan bahasa daerah sebagai bagian dari kekuatan ceritanya.

Film tersebut juga memiliki rekam jejak di festival perfilman karena berhasil masuk nominasi Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).

Setelah pemutaran, penonton berkesempatan mengikuti diskusi bersama sutradara Judheg yang berasal dari Purbalingga dan aktif berkarya di Yogyakarta.

King menjelaskan pemilihan film tersebut menjadi bagian dari upaya Layar Kelas memperkenalkan karya yang berangkat dari realitas sosial dan kedekatan budaya masyarakat lokal.

Truk Angkut Baja Ringan Rem Blong di Banyumas, 1 Orang Tewas

“Film bukan hanya tentang cerita yang ditampilkan di layar, tetapi juga bagaimana pembuatnya membaca persoalan di sekitarnya dan menerjemahkannya menjadi sebuah karya yang bisa dibicarakan bersama,” jelasnya.

Sementara itu, pada Minggu (4/10/2026), Layar Kelas akan menampilkan tiga film pendek berjudul Urup, Receh, dan Bisu yang melibatkan karya sineas dari kalangan mahasiswa maupun pelajar.

Film Urup menjadi salah satu karya yang menarik untuk dibahas karena berangkat dari tugas akhir, sekaligus membuka perspektif bahwa karya film dapat menjadi alternatif bentuk tugas akademik di bidang komunikasi maupun desain komunikasi visual.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto sekaligus bagian dari Layar Kelas, Rida Purnama Sari, mengatakan pemutaran tersebut juga bertujuan memperlihatkan proses penciptaan film kepada mahasiswa dan masyarakat.

“Kami ingin menunjukkan bahwa tugas akhir tidak selalu harus berupa penelitian kualitatif atau kuantitatif, tetapi juga bisa diwujudkan melalui karya, termasuk film, dengan proses kreatif dan pertanggungjawaban akademik yang jelas,” ungkap Rida.

Abu Anak Krakatau Mengarah ke Mana? BMKG: Belum Sampai Jateng

Beri Ruang bagi Sineas Muda

Selain karya mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi, Layar Kelas turut memberi perhatian kepada film yang diproduksi oleh pelajar tingkat sekolah menengah atas.

Salah satu karya yang akan ditayangkan berasal dari siswa SMA Negeri 2 Purwokerto, sebagai bentuk apresiasi terhadap keberanian pelajar dalam mengeksplorasi ide dan memproduksi film fiksi.

Menurut Rida, kehadiran film-film pelajar diharapkan dapat memperlihatkan bahwa proses berkarya dan mengenal dunia perfilman bisa dimulai sejak bangku sekolah.

“Teman-teman pelajar juga punya gagasan dan kemampuan untuk menghasilkan film yang menarik, sehingga penting bagi mereka mendapatkan ruang pemutaran dan kesempatan berdiskusi dengan penonton,” katanya.

Seluruh film yang ditampilkan dalam program Layar Kelas di HeteroFest 2026 merupakan karya yang dipertemukan dengan publik melalui pemutaran perdana atau public premiere, baik dari kalangan profesional maupun sineas muda.

Diskusi bersama para sutradara dari film Judheg, Urup, Receh, dan Bisu juga menjadi bagian penting untuk membedah ide cerita, proses produksi, hingga tantangan dalam mewujudkan sebuah karya film.

Perluas Ruang Apresiasi Perfilman Lokal

Keikutsertaan Layar Kelas dalam HeteroFest 2026 sekaligus menjadi upaya memperluas ruang pertemuan komunitas film dengan masyarakat di tengah beragam kegiatan komunitas dan pelaku UMKM yang hadir dalam festival tersebut.

Rida berharap kolaborasi dengan HeteroFest dapat terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya sehingga semakin banyak gagasan dan keresahan sineas yang memperoleh ruang untuk dibicarakan melalui film.

“Kami berharap jumlah penonton terus bertambah dari tahun ke tahun, karena apresiasi masyarakat menjadi salah satu nilai penting bagi pembuat film, terutama mereka yang baru mulai berkarya,” tutur Rida.

Ia menambahkan film perlu dipertemukan dengan audiens agar tidak berhenti sebagai karya yang hanya disimpan oleh pembuatnya, melainkan memperoleh tanggapan dan menjadi bagian dari percakapan publik.

Melalui program tersebut, Layar Kelas berharap dapat terus berkembang sebagai komunitas yang mendukung perfilman lokal, memperluas pengetahuan masyarakat tentang film, sekaligus membuka kesempatan bagi sineas baru untuk menunjukkan karyanya.