WARTABANYUMAS, BANJARNEGARA – Harapan warga korban tanah longsor Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, untuk memiliki tempat ibadah yang dekat akhirnya mulai terwujud setelah pembangunan masjid di kawasan hunian sementara (huntara) resmi dimulai.
Pembangunan masjid tersebut ditandai peletakan batu pertama oleh Bupati Banjarnegara Amalia Desiana pada Sabtu (22/8/2026) dan ditargetkan rampung dalam waktu enam bulan.
Masjid yang dibangun dengan dukungan dana Yudhoyono Foundation sebesar Rp1 miliar itu diharapkan menjadi salah satu fasilitas penting bagi warga yang kini menjalani kehidupan baru di kawasan huntara.
Bupati Banjarnegara Amalia Desiana mengatakan dana bantuan tersebut awalnya direncanakan untuk pembangunan unit huntara bagi para penyintas tanah longsor.
“Namun, rencana itu berubah setelah seluruh bangunan huntara disediakan secara gratis oleh Presiden Prabowo Subianto,” ujar Amalia.
Setelah adanya perubahan kebutuhan tersebut, dana Yudhoyono Foundation kemudian dialihkan untuk membangun fasilitas umum yang dinilai sangat dibutuhkan warga, yakni masjid.
“Atas restu Pak SBY, dana dialihkan untuk pembangunan masjid,” kata Amalia.
Pembangunan masjid ini menjadi bagian dari proses pemulihan warga setelah bencana tanah longsor menerjang Dusun Situkung pada 16 November 2025.
Hujan deras yang berlangsung cukup lama kala itu memicu runtuhnya sebagian bukit hingga material longsoran menerjang kawasan permukiman warga.
Kondisi tanah yang labil, ditambah keberadaan mata air besar serta retakan di kawasan perbukitan, turut meningkatkan ancaman longsor di wilayah tersebut.
Bencana itu meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat dengan data akhir BNPB mencatat 21 orang meninggal dunia dan dua lainnya masih dinyatakan hilang.
Selain korban jiwa, sebanyak 73 orang mengalami luka-luka dan 1.058 warga terpaksa mengungsi karena rumah serta lingkungan tempat tinggal mereka terdampak bencana.
Risiko bencana susulan membuat sebagian warga tidak memungkinkan kembali ke lokasi semula sehingga pemerintah menyiapkan kawasan huntara sebagai tempat tinggal sementara.
Sebanyak 59 unit huntara pertama di Desa Pandanarum telah diserahkan kepada para penyintas pada Februari 2026 sebagai bagian dari tahapan pemulihan pascabencana.
Amalia mengatakan pembangunan huntara akan terus dilanjutkan hingga seluruh penyintas memperoleh tempat tinggal yang layak, termasuk hunian tetap yang nantinya menjadi tempat tinggal permanen mereka.
“Seluruh niat baik dan upaya pemulihan pascabencana ini diharapkan dapat berjalan lancar hingga warga bisa menempati hunian tetap nantinya,” ujarnya.
Tak hanya menyediakan tempat tinggal, pemerintah juga secara bertahap melengkapi kawasan huntara dengan fasilitas dasar seperti sarana air bersih dan fasilitas umum untuk menunjang kehidupan warga.
Bagi warga, pembangunan masjid menjadi kabar yang sangat dinantikan karena selama ini mereka harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk beribadah ke masjid terdekat.
Salah seorang warga, Riswo, mengatakan jarak masjid terdekat sekitar satu kilometer jika melewati jalur perkebunan dan bisa mencapai dua kilometer melalui jalur umum.
“Pembangunan masjid sangat penting dan dinantikan warga,” kata Riswo.
Menurut Riswo, jarak tersebut menjadi persoalan tersendiri ketika hujan turun, terlebih bagi warga lanjut usia yang tidak dapat mengendarai sepeda motor.
Kehadiran masjid di kawasan huntara nantinya diharapkan membuat warga lebih mudah menjalankan ibadah, termasuk melaksanakan salat berjamaah tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Selain masjid, Kementerian Agama juga menyiapkan fasilitas Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang dirancang multifungsi untuk mendukung kegiatan keagamaan sekaligus aktivitas sosial warga.
Dengan semakin lengkapnya fasilitas di kawasan huntara, proses pemulihan penyintas tanah longsor Situkung diharapkan tidak hanya menghadirkan tempat tinggal, tetapi juga membangun kembali kehidupan masyarakat secara utuh.

